Skip to content

Mereka Bisa Saja Yesus

August 1, 2006

Pagi itu, Senin, kuterbangun dari mimpi yang indah. Semuanya terasa nyaman dan baik-baik saja. Sinar mentari yang masuk menyusup melalui jendela membuat suasana semakin teduh. Kubersyukur buat hari itu. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. “Saatnya untuk beranjak dari tempat tidur,” kataku dalam hati.

Kubuka jendela dan udara bebas masuk ke kamarku. Ku melangkahkan kaki ke meja belajar. Alkitab… Kubuka dengan perasaan biasa-biasa saja walaupun ku tahu bahwa Alkitab itu bukunya Tuhan. Kubuka Matius 25:31-46. Judulnya “Penghakiman Terakhir”.

“Wah… Judulnya serem juga nih,” kataku dengan penuh penasaran. Ayat demi ayat kubaca hingga ayatnya yang terakhir. Apa maksudnya Firman Tuhan kali ini?Kubaca ulang sekali lagi sambil berharap Tuhan memberiku pengertian. Namun aku tak kunjung paham apa maksud Tuhan kali ini. Setelah memikirkannya dan merenungkannya beberapa waktu, kuberdoa untuk hari itu.

Aku segera mandi sebab ada kuliah jam 11 siang. Setelah semuanya selesai, aku melangkahkan kaki melewati perumahan-perumahan kumuh di pinggir kali, naik Metromini menuju stasiun Tebet. Sambil mendengarkan bunyi krecekan pengamen jalanan di Metromini, kulayangkan pandanganku ke arah pengamen itu. Seorang anak kecil berumur kira-kira 8 tahun bernyanyi menyanyikan lagu yang nada dan syairnya tidak harmonis. Kutersenyum melihat keluguan dan keberaniannya.

Udara tidak begitu panas hari itu. Keramaian dan kesibukan adalah hal biasa kujumpai termasuk para pengemis, gelandangan, dan anak-anak jalanan. “Wah, kereta datang!” kataku dalam hati, setelah menunggu di stasiun 15 menit lamanya. Kereta berbunyi dan pergi meninggalkan stasiun Tebet. Sambil berpegangan untuk menjaga keseimbangan, aku kembali melihat pengamen cilik yang lain. Beberapa waktu kemudian lewat seorang yang lumpuh kakinya, orang yang buta matanya, bahkan orang gila.

Aku berpikir, dan berseru, Tuhan… Bagaimana dengan hidup mereka ini? Betapa masa bodohnya aku selama ini? Karena terlalu seringnya aku melihat pemandangan itu, aku berpikir bahwa semuanya adalah hal yang biasa. Bahkan ketika temanku sendiri membutuhkanku aku juga bersikap seadanya.

Tiba-tiba terlintas Firman Tuhan pagi itu,

35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Aku masih bertanya… Kemudian timbul sesuatu dalam hatiku… Orang-orang yang kulihat hari ini bisa saja Yesus. Pengamen cilik, pengemis, orang yang buta, orang yang lumpuh, bahkan orang gila itu bisa saja Yesus. Aku berbisik, “Temanku yang kesulitan ekonomi itu bisa saja Yesus, temanku pemakai obat itu bisa saja Yesus, orang yang aku tidak suka itu bisa saja Yesus, orang yang minta tolong padaku bisa saja Yesus, ayahku yang pemabuk itu bisa saja Yesus, ibuku yang yang tidak perduli padaku bisa saja Yesus, adikku yang hidup semaunya itu bisa saja Yesus. Ada begitu banyak yang terlintas…

Hari itu benar-benar hari yang mengubah cara pandangku akan keadaan sekitar. Memandang remeh orang lain atau merendahkan orang lain bukanlah karakter Tuhan. Tuhan sangat menghargai dan meninggikan orang-orang yang rendah dan merendahkan dirinya. Tuhan sangat mengasihi mereka. Mereka yang terbelenggu, terikat, para tawanan… sedang berseru minta tolong untuk dibebaskan. Mereka melihat kita dan minta tolong kepada kita, tetapi adakah kita peka akan hal itu? Adakah kita peduli dengan mereka? Adakah kita berdoa bagi mereka? Atau kita terlalu sibuk dengan urusan kita masing-masing?

Perhatikan baik-baik saudaraku, jangan sampai Tuhan marah dan berkata, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat malaikatnya”.

sumber : unitedfool.com

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: